Sejak kapan sibisu mampu berbicara? meski untuk dirinya sendiri dengan suara yang keluar dari kedua katup bibirnya?Sejak kapan sibuta bisa memandang dirinya sendiri yang tengah menangis dihadapan cermin? Atau tertawa bahkan hanya ingin melihat mimik parasnya ketika terdiam?Aku bukan sibisu yang meminta untuk bisa bernyanyi pada sang Pencipta Alam. Aku tidak selayaknya seorang buta yang meminta diperbolehkan memandang suasana pagi di alam pegunungan.Aku hanya pejalan kaki yang tak bisa berlari, untuk mencapai tujuanku, langkah demi langkah harus kunikmati. Inilah ganjaran dari sebab atau jenis lain pada jalur yang harus dilalui untuk menemukan akibat. Tak ada orang lain selain aku, Karena disanalah jalan hidupku. Tak perlu kuuraikan kembali bagaimana caraku menerangkan jika ‘ hujan akan turun ’Mungkin ia telah melihat ucapanku dari mata orang lain, disana tak bisa terlihat. Ya.., tentu tak kan terlihat Karena aku membuatnya hanya untuk dua mata lain selain kedua bola mataku. Hanya untuk mata kanan jika kedua bola mataku diumpamakan seperti mata kiri. Aku berusaha menyeimbangkan diri diatas udara. Khayalan? Ya.., selain itu dengan apa aku bisa melihat, berjalan, bahkan terbang.Pernahkah engkau mendengarkan senandung siBisu ketika ia tengah sendirian dibawah pohon besar sedangkan matahari sudah separuh terbenam? Sangat indah, lebih indah dari gesek biola pada ruang tertutup yang bagi sebagian lain tak beguna untuk didengar.benarkah engkau mengetahui pemandangan terindah yang pernah dibayangkan sibuta ketika ia tengah beristirahat dari teriknya matahari dibawah bangunan tua yang ditinggal pemiliknya?Engkau selalu berkisah tentang semua kekurangan, bisu, buta, tuli bahkan cacat kedua kaki. Kenapa engkau melakukannya? Tidakkah engkau telah mengetahui jika aku telah mengabarkan pada Pagi jika tersenyum lebih kunikmati ketimbang berdiam diri dan menangis sepanjang hari. Apa tiada kisah lain yang bisa kau kisahkan padaku selain orang-orang yang bisa membuatku menangis dengan hanya mengetahui keberadaannya?Aku adalah hitam yang mengaku putih sedangkan keberadaan sesungguhnya aku masih tetap hitam. Tak perlu kuurai kedua kalinya. Apa waktu telah memperkenalkan dirinya kepadamu? Hingga kisah sebelumnya dengan mudah terlupa dari ingatan yang cepat berselang, tumpang tindih, lalu menghilang?Apa maksud semua ini? Tujuan apa dibalik semua ini? Apa yang kau inginkan? Katakanlah! Berbicaralah jika engkau memang bukan seorang bisu!Wahai Gadisku.., tiada maksud mengganggu dengan tujuan dan keinginan yang memberatkan hatimu. Aku hanya seorang pejalan kaki yang haus dalam perjalanan, lalu aku meminum seteguk air dari langit yang turun secara berkala. Atau seperti seorang lapar yang memakan sesuatu. Aku tak bisa menahan haus lebih lama karena aku tak ingin mati meski kematian hingga saat ini masih kuidam-idamkan. Hanya ini yang bisa kulakukan. Demi apa dan untuk apa. Aku tak mengetahuinya. Seorang pelukis selalu melukis diatas kanfasnya. Seorang penyanyyi selalu mengeluarkan suaranya dan telinga-telinga lain adalah kebanggaan bagi sipenyanyi jika suaranya sudah didengar. Maka disinilah kanfasku jika aku seorang pelukis. Maka hanya inilah kedua telinga yang mendengarkan suaraku jika aku seorang penyanyi. ‘ ketahuilah, jangan engkau mengerti ’Apa maksudnya? ‘ ketahuilah jangan kau mengerti ’ berulangkali kau katakan kalimat itu sedangkan aku telah menemukan satu kesimpulan yang mungkin berbeda dari kebenaran maksud yang ada.Begini saja, anggap pengetahuan itu ada dalam kepala, sedangkan pengertian harus dirasakan sebelum dilaksanakan. Seseorang yang mengetahui belum tentu mengerti sedangkan pengertian dari sesuatu akan mendatangkan pengetahuan. Jika kau mengetahui maka belum tentu pengertian itu kau miliki sedangkan jika engkau mengerti, kau akan mengetahuinya.Disana ada kemarahan dan kasih sayang yang saling berusaha mendahului, disana ada ketidak setujuan dan rasa bangga untuk segala jenis pujian datang menghampiriku. Aku tak tahu siapa yang datang lebih dulu. Mereka berdatangan begitu saja.Katakanlah pada bayanganmu dihadapan cermin, ‘ Siapa aku? ’ Maka engkau dengan sendirinya akan tersadar jika manusia bukanlah seseorang yang teguh dalam pendiriannya. Penyesalan selalu ada dibelakang. Kau tak bisa menariknya dalam permulaan setiap sesuatu yang akan kau lakukan. Jika engkau memaksa mendatangkan penyesalan pada permulaan setiap sesuatu. Maka peyesalan yang kau paksa datang pada permulaan itu akan merubah namanya menjadi keraguan hati atau kebimbangan yang menjemukan. Tak ada penjelasan disana. Hanya ada ketakutan untuk melangkah.Kemarau semakin panjang dan pertanyaan demi pertanyaan tak lagi membutuhkan jawaban.Kau ingin membuatku tetap melayang? Tak berada didasar dan tak terlihat dari permukaan. Aku tak semestinya bertanya. Tapi Aku Tak Bisa Menjawab! Kau tak perlu menyadarinya karena kau adalah kesadaran yang lebih maju beberapa langkah dari kesadaran sebenarnya.Aku serupa tunas sedangkan engkau adalah pohon besar yang telah memunculkan ranting-ranting kokoh. Anggap aku adalah satu sedangkan dirimu ada di lima atau enam.Aku punya ruang dimana sempat kuperhatikan keadaan yang mungkin benar, ia memaki sedangkan satu lainnya tak bisa bergerak karena ia dukungkung kenyataan, ia tak punya etika sedangkan satu lainnya mengerti benar sopan santun kehidupan. Tak ada jalan lain selain diam dan pergi, lebih baik bisu ketimbang berbicara kotor, atau lebih baik cacat kedua tangan ketimbang sempurna namun mencuri. Diam memang emas Dan , ‘ kau tahu kelanjutannya ’Aku tak meminta putih kembali pada hitam atau gadis kecil untuk kembali menjadi janin. Aku hanya ingin mengatakan jika putih adalah tempat dimana tujuh warna itu seharusnya berada, aku hanya ingin mengatakan jika gadis kecil itu sudah seharusnya memainkan boneka-boneka didalam kamarnya.Putih bukan cahaya dan gadis kecil itu belum mampu melukis sketsa kedua orang tuanya tanpa sedikitpun kesalahan. Tidakkah hidup adalah sebuah perjalanan? bukankah harus melalui dua sebelum aku menginjak tiga. Lalu kenapa melupakan empat jika kini engkau ada pada lima atau enam???Sudahlah.., aku hanya menyenangkan diriku lagi. Tak perlu berkata jika engkau tak ingin berkata. Tak perlu bertanya jika engkau tak ingin bertanya. Aku bukan dorongan atau paksaan halus. Aku hanya sebatas kisah yang selalu ingin dibaca. Aku hanya sebutir anggur yang selalu ingin dimakan dan aku hanya nyala api yang hanya bisa membakar.Cinta, apa aku tak bosan membicarakan cinta? Bukankah jika mudah datang maka mudah pula untuk meninggalkan apa yang didatangi? Jika engkau telah mengetahui maka ketahuilah. Hanya mengetahuinya. Dan jika engkau pernah mengerti, tidakkah pengetahuan itu masih tersimpan dalam hatimu. Bukankah engkau pernah berkata jika tangan yang terbakar akan menyisakan luka yang sulit dihilangkan. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Ini adalah kehidupan. Ya.., ini kehidupan.Biarlah berlalu serupa angin yang berhembus atau perumpamaan lainnya. Tapi kenapa engkau harus keluar dari alur sedangkan engkau yang mengajariku diam diatas perahu besar dan bersabar mengikuti perjalanan untuk melihat lautan yang begitu megahnya. Sedangkan aku masih ada pada jalur-jalur besar sungai yang menuju kepada lautan megah itu, engkau melangkah keluar kapal untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Dan sejak sat itu aku tak bisa membuat sepenggal kisah berkelanjutan untuk sang nahkoda kapal. Aku hanya bisa mengadu pada aliran sungai dan pepohonan besar. Aku tak bisa memandangmu, aku tak bisa melihatmu begitu juga engkau. Maka aku hanya terus mengadu pada batu-batu besar dan rumput-rumput kecil dibibir sungai. Hingga datang suatu hari, engkau melalui pepohonan besar itu, engkau menemui bebatuan itu dan aliran sungai itu. Saat engkau berjalan perlahan ditepi sungai. Rerumputan itu mengenalimu dan memanggil namamu. Ia mengenalmu karena pengaduanku. Engkau bertanya-tanya bagaimana bisa. Dan sang pohon besar bercerita tentang pengaduanku, lalu terdengar dari kejauhan batu besar itu ikut membuka suaranya tentang pengaduan seseorang diatas kapal. Lalu engkau mulai kebingungan. Tak tahu harus berbuat apa. Engkau tak bisa mngejar perahu yang kutumpangi. Lalu engaku terdiam sesaat dibawah pohon besar, bertanya tentang seseorang didalam perahu yang mengadu beberapa minggu lalu padanya. Pohon besar itu bercerita kesana dan kemari, dan engkau mencoba mengingat bagaimana cara menerjemahkan bahasaku. Waktu sedikit menghapus ingatan itu hingga engkau mencoba bertanya pada rerumputan dan batu besar ditepi sungai.Hanya sedikit yang engkau mengerti, hingga akhirnya kau sampaikan pada aliran sungai, ‘ wahai sungai, katakanlah pada seseorang diatas perahu itu, katakan padanya untuk berteriak sekuat tenaga , kiranya aku bisa mendengar suaranya dari sini ’ lalu aliran sungai itu melaju kian cepat. Menyampaikan keinginanmu untukku diatas kapal. Saat seseorang diatas kapal itu mendengar keinginanmu dari sang aliran sungai. Ia tersenyum kecil, hatinya bergetar. Ia ingin menangis namun ia tak bisa melakukannya. Udara telah mengajarinya untuk selalu siap menerima hujan dan terik matahari. Udara telah mengajarinya untuk tidak melawan ombak ditepi lautan nanti. Dan keinginan bukanlah suatu keharusan. Aku tahu jika keburukan adalah kenangan sedangkan kebaikan adalah sesuatu yang mudah dilupakan.Sungguh aku ingin berteriak namun aku malu pada pepohonan besar dan rerumputan. Pada batu besar dan aliran sungai. Maka aku hanya terus mengadu pada setiap makhluk yang kutemui, dan aliran sungai itupun kembali kepadamu. Ia kembali bukan untuk mengatakan jika aku bersedia untuk berteriak atau tidak. Namun ia kembali untuk menyampaikan pengaduan-pengaduanku yang ia dengar. Setelah itu, kau tak mengatakan apapun pada aliran sungai ‘ anggap saja engkau masih mengerti ’Siapa ingin mencari intan jika emas dalam genggaman? Bukankah Cornelia tak tuli? Untuk apa Allan merangkai beberapa syair untuk seorang buta selain untuk mendapatkan hatinya. Tidakkah perhiasan itu mengerti? Tidakkah perhiasan itu peduli? Apa hitam yang mengaku putih itu tak telintas dalam benak? “ Jika Hitam Hanya Mengaku Putih Meski Sebenarnya Ia Masih Hitam ” untuk apa bicara sedangkan para pendengar tak mengisi tempatnya? Untuk apa melangkah jika dihadapan orang itu adalah jurang bebatuan yang teramat curam bahkan untuk dipandang? Aku ingin mati! ‘Hitam Hanya Mengaku Putih Meski Sebenarnya Ia Masih Hitam ’Mendendamlah kasih.., menendamlah karena aku tak mampu mendendam kepadamu. Bunuhlah aku Cinta.., karena aku tak bisa tidak mencintaimu. Lupakanlah.., lupakan karena aku tak bisa melupakannya., aku kebingungan.., aku kebingungan.Satuwaktu datang seorang penyair Lebanon kehadapan kekasihnya. Disana mereka saling tertawa, berbahagia. Merinci setiap kisah yang mereka lalui satu sama lain pada dua tempat yang berbeda. Mereka baru dipertemukan malam ini setelah terpisah beberapa lama. Mereka saling memuji untuk melepas kerinduan dari dalam jiwanya. Senyum sang penyair terkembang berlanjut kedua pipi sang kekasih merona. Cinta merekah seiring kedua bolamata sang penyair berbinar menahan air matanya turun. Lalu kegundahan datang, gejolak jiwanya tak tertahankan. Dan ia tersentak, melemparkan buku-buku yang tengah ia tulisi dari atas meja, lampu pijar kekuningan itu jatuh tapi tak padam. Ia dibawah siluet kegelapan sinar pijar yang menerangi punggungnya. Lalu ia meratap pada kegelapan ‘ wahai sunyi.., kenapa kau hadirkan cinta jika kebencian ada karenanya? Wahai pekat.., kenapa kau datangkan kegembiraan jika duka didada kau persembahkan untuknya? Kekasihku, puisiku. Bagaimana bisa kuterjemahkan kecantikan parasmu pada matahari sedangkan rembulan enggan pergi dari tempatnya. Kekasihku. Kalimatku, kerinduan ini hanya terbelah menjadi dua bagian, bukan terpecah jadi kepingan. Kau pergi terlalu dini sebelum fajar terkembang menghapus kegelapan malam ’ dan sang penyair terduduk haru, terisak dibawah lampu pijar yang terbaring pada lantai, sinarnya menyinari kelopak matanya yang dilinangi air mata. Ia bersimpuh dalam kegelapan untuk mengadu tentang kalimat-kalimatnya yang hilang. Setelah itu, ia bangkit dan merapihkan kembali buku-bukunya, lampu pijar yang tergeletak diatas lantai ia naikkan kembali keatas meja dan ia duduk tenang kembali dengan pena nya. Bersiap melanjutkan percakapannya dengan sang kekasih. Tapi ketika ia melihat judul dari tulisannya. Ia terdiam. Tak ada lagi hasrat untuk menulis atau berbincang dengan sang kekasih. ‘ kehidupan penyair adalah kematiannya ’kemudian ia beranjak dari dudukya dan naik keatas ranjang setelah mematikan lampu pijar diatas meja. Sang Penyair menarik selimut tebalnya dan berdesis “ jika terlelap adalah sesuatu yang paling dekat dengan kematian, maka aku akan memulai kehidupanku sebagai seorang penyair ”
Assalamu'alaikum Wr Wb Hari ini tepat pada hari rabu tanggal 19 bulan februari taon 2014 disekolah DU 2 (soory late post :3), ane ngemban ilmu dan mempresentasikan tentang minat belajar siswa. Ya ane juga siswa namun juga berbasis santri, tapi dalam kontak presentasi pelajaranminat belajar siswa Cuma ane sebutin meliputi ontak visual sama out door, nah di post ini ane mau ngelanjutin yang kurang tentang belajar ? ya meskipun uda pada tau apa itu belajar, tapi jabarin seputar belajar dipondok yang ane dapet, oke mulai.. Di indonesia ini ni negara tercinta tingakt belajarnya anak menurun drastis, kenapa ? padahal kan juga fasilitas lengkap jaman uda modern kayak gini. Ingat lagi bahwasannya fasilitas nggak akan menjamin tigkat belajar siswa, karena itu mah tergantung anaknya sendiri, tapi ane nggak bahas sekolah indonesia atau siswanya yang kayak gitu ane yakin siswa indonesia pinter semua, ane mau bahas pembelajaran outdoor seputar pondok, ane uda mondok 4 tahun lamanya ya insya...
Comments
Post a Comment